para (korban) stereotype
“Woaaaaah” masih ngantuk, ketika ringtone monophonic bordering sebagai tanda ada panggilan masuk membangunkanku, seorang teman menelpon dan bertanya apakah hari ini jadi jalan2 karena beberapa hari lalu aku mengajaknya nyari2 sepatu. “oke deeeh tak tunggu yo” temanku mengucap kalimat penutup sebagai pertanda kesepakatan sudah deal kalau nanti aku menjemputnya. Aku keluar dari kamar ternyata hari sudah agak siang, jam setengah sepuluh siang “wuih gak ngrasaain pagi nih hehehehe…” lamunku di otak, kebiasaan bangun pagi sepertinya sudah lama hilang jika kerja pulangnya malam, maklum kerja system shif ngebikin aku terkadang harus masuk malam. Selama diperjalanan kami ngobrol “ngalor ngidul” tak karuan, mulai dari cerita tentang partai politik yang tak konsisten dengan platformnya sampai pengalaman temanku yang dikira jama’ah islamiah hanya karena jenggot. Bicara tentang jenggot dan bomber sepertinya sama dengan bicara tentang film india dan tari-tarian, sama dengan bicara tentang gendut dan makannya buanyak, sama dengan bicara tentang betawi dan poligami, pokoknya judulnya sama STEREOTIPE.
Masih ingat dibenakku ketika lulus dari sma dulu, ketika itu aku mengecat rambut dan seketika itu juga seorang teman bilang “koyo cah nakal”, waktu itu saya langsung protes dengan alasan tidak semua anak nakal rambutnya dicat dan sebaliknya tidak semua anak yang rambutnya “blonde” itu nakal, “Bukankah ketika seseorang yang duduk didekatku tidak akan tertular penyakit hanya karena rambutku blonde, lalu kenapa teman yang merokok tidak dia katain seperti anak nakal? Padahal jelas-jelas rokok itu bisa membuatnya berpenyakitan” AHHH STREOTIPE…………
Dalam definisi psikologi, stereotipe adalah citra mental yang kelewat sederhana mengenai sebuah realitas social, Stereotipe kerap digunakan dalam pengertian negatif atau purbasangka dan cukup sering digunakan untuk menjustifikasi perilaku diskriminatif tertentu.
Di Indonesia ini yang terbentang dari sabang sampai merauke kecuali timor-timur terdapat ratusan etnis ,budaya, dan klan. begitu pula dengan stereotype-stereotipenya.
“ dia orang padang? Pantes pelit”
“ hati – hati berteman dengan orang batak, jangan- jangan copet”
“ anak sunda pasti dikawinin muda”
“ dasar cina loe, mata duitan”
“cewek manadooo, biar kalah nasi asal menang aksiiii”
Bla bla bla…. Stereotype…….
ketika aku menyodorkan sebuah judul film, temanku bertanya “film opo? judule?” Aku pun menjawab “judulnya Slumdog Millionaire, film india produksi holiwood” spontan temanku langsung berkomentar “halah indiaaaa isine cuman tari – tari ama nyanyi-nyanyi tuh! Critanya juga cuman kejar- kejaran antara inspektur kapoor dan tokoh yang difitnah ya gak?”, hehehe padahal film ini 99% cerita dan hanya ada 1% tari-tari dan nyanyi, tapi ya itulah stereotype yang melekat pada film india.
gak semua stereotipe itu jelek sih, tetapi tetap saja stereotipe identik dengan diskriminasi, tentang pengkotakan pada sekelompok orang (bisa dibilang sebagai kaum atau suku) yang lebih banyak sebagai ungkapan merendahkan. berbanding terbalik dengan kodrat manusia yang diciptakan berbeda – beda, bukankah sudah ditanamkan sejak dini bahwa perbadaan itu indah?……. entahlah, hanya waktu yang bisa berbicara. kadang kita diatas ( mengkotakkan ) kadang kita dibawah ( dikotakkan ).